Model Dazhai Dalam Reformasi Daerah
Posted in Sosial Politik on 10/19/2009 08:38 am by aji.pribadiSejak tahun 1949, Cina dipimpin oleh satu partai tunggal yaitu PKC yang membentuk pemerintahan Sosialis di bawah pemimpin besar Mao Zedong. Pada tahun 1958, Mao yang melihat Cina amat tertinggal dari negara-negara Barat memutuskan untuk menjalankan gerakan Lompatan Jauh ke Depan. Kebijakan terbesar gerakan ini adalah pembentukan komune yang bertujuan untuk mengejar ketertinggalan produksi baja dari Inggris. Pada tahun tersebut, sesuai dengan apa yang diinstruksikan Mao, banyak bermunculan komune-komune. Dari sekian banyak komune yang ada, Mao memilih sebuah komune di provinsi Shanxi yaitu Dazhai. Komune ini dikatakan Mao amat menjunjung pemikiran para sosialis tapi dikemudian hari diketahui bahwa Dazhai memalsukan laporan hasil pertanian kepada pusat. Apa yang terjadi ? Apakah Mao salah memilih ? atau memang daerah ini dijadikan sebuah permainan para elit politik di tingkat pusat ? Lalu, bagaimana reaksi komune-komune lain terhadap Dazhai ? Apa pula yang dikatakan penduduk Dazhai sendiri ?
Dazhai merupakan suatu desa di daerah pegunungan di provinsi Shanxi. Cerita ini berawal pada tahun 1963, demikian yang diceritakan oleh seorang pekerja teladan, Liang Bian Liang. Pada waktu itu turun hujan tujuh hari tujuh malam. Ketika badai melanda, pemimpin brigade Dazhai, Chen Yonggui sedang menghadiri rapat di distrik lain. Tiga hari pertama para pekerja dapat menghubunginya melalui telepon, tetapi setelah itu sambungan telepon terputus. Baru pada hari ke-7, dengan berjalan menyusuri sungai, Chen dapat sampai kembali ke Dazhai. Sesampainya, ia memerintahkan para pekerja untuk membangun kembali kehidupan mereka, tetapi ia dengan menegaskan untuk menolak semua bantuan dari luar. Slogannya yang terkenal yaitu “Tidak meminta tempat berteduh, tidak meminta padi dan tidak meminta uang”. Maksud dari slogannya tentu saja tiga tidak kepada orang dari luar Dazhai yang memberi bantuan. Penduduk Dazhai mematuhinya. Pada malam hari, ketika mereka telah menanami kembali lahan, mereka bersama-sama membantu satu sama lain membetulkan rumah mereka. Pemerintah provinsi ingin memberikan bantuan tetapi Chen dengan tegas mengatakan bahwa Dazhai akan mengandalkan dirinya sendiri.
Dalam setahun, Dazhai menjadi brigade yang terkenal di seantero Cina. Chen diundang ke Beijing untuk berbagi mengenai doktrin pengandalan diri sendiri dan untuk bertemu Mao. Mao sendiri tidak pernah pergi ke Dazhai, tapi setelah bertemu Chen, ia menjadikan Dazhai sebuah model utopia komunis bagi seluruh komune.
Pada tahun 1975, sebagai orang yang telah berjasa membangun Dazhai, Chen Yonggui diangkat menjadi wakil perdana menteri. Setelah ia mengetahui Dazhai diadopsi sebagai model, ia malah memberikan bantuan kepada Dazhai. Pada saat ini, Dazhai yang dikenal sebagai model dari pengandalan diri sendiri telah berubah menjadi sebuah contoh spektakuler dari sebuah ketergantungan terhadap negara.
Setelah Mao meninggal pada tahun 1976, peranan Dazhai sebagai model komune hanya tinggal hitungan hari saja. Deng Xiaoping, yang menggantikan Mao sangat paham dengan apa yang terjadi di Dazhai. Ia mengatakan bahwa Dazhai merupakan suatu model, bukan model dari komune, tapi sebuah model dari kesalahan terparah revolusi kebudayaan. Tahun 1980, Chen dicopot dari posisi wakil perdana menteri.
Sebenarnya Dazhai merupakan contoh sukses dari “Kegiatan Politik Revolusi yang menjalankan jalan sosialis dengan mengandalkan diri sendiri” dan “Publik pertama, pribadi kemudian” sebagai prinsip hidup. Kesuksesan Dazhai bukan hanya karena subsidi dari negara dan tenaga dari militer seperti yang diklaim para reformis, tetapi juga karena kerja keras dan kerjasama para penduduk Dazhai dan kepintaran Chen Yonggui. Seandainya komune yang dijalankan di seluruh Cina sesukses apa yang terjadi di Dazhai, maka ide reformasi daerah itu sendiri tidak akan pernah muncul.
Tahun 1970an, 30 persen dari desa Cina yang mengikuti model Dazhai mangalami kemajuan. 40 persen lainnya, berada di tengah-tengah, menunjukkan potensial tetapi juga menghadapi banyak masalah. Sedangkan sisanya, 30 persen desa di Cina mengalami stagnasi karena salah menerapkan atau mengabaikan model Dazhai ini. Untuk 30 persen desa terburuk, menjalankan model tanggung jawab merupakan jawaban dari stagnasi mereka. Ketika diterapkan, model tanggung jawab menyelesaikan banyak masalah.
Partai dan pemerintahan yang notabene pro dengan reformasi daerah ikut menyebarkan berita ini ke seluruh penjuru negeri dan membuat desa-desa yang berada di posisi tengah dan yang mengalami kemajuan ikut serta dalam gerakan reformasi daerah ini. Untuk memuluskan jalan mereka, para reformis merasa perlu untuk mendiskreditkan dan membuang jauh-jauh model komune. Bahkan lebih jauh dikatakan, Deng Xiaoping, yang pada saat itu merupakan “ketua” dari para reformis memerintahkan kepada wartawan agar membuat sebuah artikel yang mendiskreditkan Dazhai dan memperlihatkan bahwa sistem tanggung jawab berhasil. Sebenarnya cara ini amat kontradiktif ketika dihadapkan pada slogan Deng yaitu “Mencari kebenaran dari Fakta” tapi ketika kepentingan politik berbicara, apa saja dapat dijalankan. Deng menjalankan kebijakan ini tentu saja karena ingin mengambil kembali kekuasaan dari tangan Hua Guofeng.
Dari pemaparan di atas dapat dikatakan bahwa Dazhai sendiri merupakan sebuah persengketaan. Persengketaan ini terjadi antara dua kubu elit politik di tingkat pusat, Kubu yang pada saat itu berkuasa, yang dipimpin oleh Hua Guofeng, merupakan anak didik dari Mao Zedong dengan kubu yang ingin berkuasa yang dipimpin oleh Deng Xiaoping. Deng Xiaoping melihat bahwa Dazhai merupakan simbol kekuasaan Mao. Mao sendiri yang menunjuk Dazhai sebagai model komune dan mewajibkan seluruh komune di Cina untuk mengikuti. Jika Dazhai runtuh maka model tersebut akan hilang dan teori Deng Xiaoping dapat dijalankan. Sebenarnya teori Deng Xiaoping mengenai reformasi daerah hanyalah sebuah sambutan elit politik yang ingin berkuasa atas apa yang terjadi di kalangan akar-rumput. Keinginan untuk melakukan reformasi daerah sebenarnya sudah lama ada, bahkan dikatakan telah ada sejak tahun 1962, pada saat penyesuaian kembali setelah ekonomi Cina hancur lebur akibat lompatan jauh ke depan. Hanya saja, mereka masih menjalankannya secara tertutup dibawah tekanan Beijing. Pada saat itu, tabu menjalankan apa yang disebut sebagai sistem rumah tangga. Benar saja, setelah model Dazhai didiskreditkan, angin segar berhembus bagi kalangan reformis. Mereka berhasil mengalahkan idealisme Mao.
Lalu pertanyaan berikutnya yaitu, Apakah Mao salah memilih ? Menurut artikel yang saya baca, Mao tidak salah memilih. Memang, dikatakan bahwa Mao sendiri tidak pernah menginjakkan kakinya di Dazhai tetapi menurut saya, ketika diberitahukan ada sebuah daerah yang tadinya tidak subur, dilanda banjir hebat tetapi sekarang menjadi subur karena kerja sama penduduknya, jika saya menjadi Mao, saya sendiri akan mengambil kesempatan ini untuk menjadi propaganda dalam menjalankan ideologi yang saya percayai. Demikian juga Mao, setelah Mao mendengar pemaparan dari Chen Yonggui apalagi ditambah bahwa daerah itu memakai model sosialisme, pastilah kesempatan ini diambil dan digembar-gemborkan agar seluruh rakyat Cina mau tunduk karena toh nyatanya ada yang berhasil dengan menjalankan sosialisme. Mengapa yang lain tidak ? Hanya saja, Mao menjadi salah ketika mengangkat Chen menjadi wakil perdana menteri karena jasanya. Hal inilah yang menjadi cikal bakal kehancuran Dazhai yang memalukan itu. Karena bantuan-bantuan yang diberikan Chen inilah, Dazhai menjadi bergantung dan teori-teori tentang kemandirian menjadi sebuah wacana belaka.
Dazhai sendiri sebelum mengalami kehancuran, melewati masa-masa manis ketika banyak orang berbondong-bondong datang ke daerah itu untuk memelajari apa yang dijalankan oleh Dazhai. Dazhai menjadi primadona dan penduduknya pasti sangat bangga dengan apa yang telah mereka capai. Mengenai daerah-daerah yang tidak mengikuti model ini, saya juga tidak begitu mengerti mengapa tetapi menurut analisa saya kondisi di daerah-daerah yang tidak mengikuti Dazhai berbeda. Seperti yang ditulis oleh Yang Dali dalam bukunya Calamity and Reform, ia menjelaskan mengenai faktor yang memengaruhi suatu daerah menjalankan reformasi daerah. Salah satu faktor tersebut adalah efek kelaparan. Ia mengatakan bahwa semakin sebuah provinsi menderita kelaparan pada masa Lompatan Jauh ke Depan maka semakin pahit pelajaran yang didapat provinsi tersebut secara keseluruhan. Provinsi tersebut lebih tidak menginginkan kebijkan radikal pertanian seperti Brigade produksi. Dengan kata lain, tingkat kelaparan pada masa Lompatan Jauh ke Depan pada sebuah provinsi merupakan sebuah indikator populasi yang baik dan menjadi ukuran insentif reformasi provinsi tersebut. Dari faktor ini dapat dilihat, tingkat kelaparan di Dazhai dan di Anhui (provinsi yang pertama kali mengadakan reformasi) tidak sama. Jika kita mengikuti teori Dali, maka dapat disimpulkan bahwa di Anhui orang lebih menderita kelaparan sehingga amat sulit menjalankan kolektivisasi yang jelas-jelas tidak menyejahterakan penduduknya.
Ketika Chen Yonggui dicopot dari jabatannya sebagai wakil perdana menteri dan dianggap bersalah oleh pemerintah, penduduk Dazhai sendiri tidak menyalahkannya. Penduduk Dazhai menganggap Chen sebagai orang yang berjasa dalam memajukan Dazhai. Walaupun Chen merupakan orang yang sangat keras dan bahkan keterlaluan, tetapi berkat jasanya Dazhai dapat menjadi daerah yang maju dan lebih jauh lagi menjadi model komune seluruh Cina
Pada akhirnya saya ingin mengatakan bahwa, Dazhai sendiri dapat dilihat dari berbagai sisi tergantung dari apa kepentingan politiknya. Jika dilihat dari sisi Mao yang menjunjung tinggi sosialisme, pasti dikatakan bahwa Dazhai itu adalah sebuah daerah yang baik karena mereka sukses karena adanya kerjasama dari penduduknya, dan itu yang diajarkan oleh sosialisme. Untuk Deng, Dazhai sendiri merupakan sebuah ikon kekuasaan sang musuh. Sebagai pihak oposisi ia ingin mencari cara untuk berkuasa kembali, yaitu dengan mengambil hati rakyat. Ia ingin terlihat seperti memihak rakyat yang tentu saja hal itu hanyalah sebagai cara untuk meraih kekuasaan. Pada masa kekuasaan Deng, Dazhai dapat dilihat sebagai korban. Korban politisasi dari reformasi daerah itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.iht.com/articles/1995/04/24/town.ttt.php?page=1 (diakses 13 Mei 2008 21:10)
http://www.iht.com/articles/1995/04/24/town.ttt.php?page=2 (diakses 13 Mei 2008 21:15)
http://www.lastsuperpower.net/docs/dazhai (diakses 13 Mei 2008 19:30)
http://findarticles.com/p/articles/mi_m1132/is_n10_v39/ai_6323626/pg_1 (diakses 12 Mei 2008 20:20)
http://www.time.com/time/asia/magazine/99/0927/dazhai.html (diakses 12 Mei 2008 23:10)
http://en.wikipedia.org/wiki/Egalitarian (diakses 13 Mei 2008 20:10)